Satu pekerjaan belum selesai, yang lain sudah menunggu. Kita mengerjakan yang ini sambil memikirkan yang itu. Ada tenggat yang semakin dekat, ada pesan yang perlu dijawab, dan di dalam kepala kalimat yang sama terus berulang: “Harus selesai. Harus cepat. Yang ini juga harus beres.”
Lama-lama, seluruh tubuh ikut menegang. Bahu terangkat, leher terasa kaku, napas menjadi pendek. Kita masih duduk di depan pekerjaan, tetapi perhatian sudah tertarik ke banyak arah. Semakin diteruskan, semakin kacau. Kita lebih mudah melakukan kesalahan, kesal pada gangguan kecil, lalu semakin terburu-buru karena merasa tertinggal. Rasanya, hari ini makin sial saja.
Pada saat seperti ini, coba berhenti sebentar dan kenali apa yang sedang terjadi. “Oh, saya sudah terseret. Cara saya bekerja sekarang membuat saya semakin tegang.” Kita mulai dengan mengakui keadaan yang sebenarnya sudah terasa di tubuh dan pikiran.
Mengenali Aliran yang Mulai Merugikan
Dalam ilmu kesehatan Barat, tekanan semacam ini dapat dipahami melalui respons fight or flight, kesiagaan tubuh untuk melawan atau menghindari ancaman. Tenggat pekerjaan maupun kekhawatiran tentang pekerjaan dapat memicunya. Detak jantung dan pernapasan meningkat, sementara otot-otot menegang. Tubuh ikut menanggapi desakan yang terus kita rasakan.1
Dalam bahasa kebijaksanaan Timur, kita bisa memperhatikan aliran kehidupan yang sedang kita ikuti. Apakah cara bekerja ini membawa kita menuju keadaan yang lebih selaras, atau justru membuat tubuh, pikiran, dan hubungan dengan orang lain semakin tidak enak? Ketika ketegangan terus bertambah dan tindakan kita semakin kacau, kita sedang mengikuti aliran yang kurang berkah, kurang bermanfaat bagi keseluruhan hidup.
Berkah itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pekerjaan membantu menghidupi keluarga, kemampuan kita berkembang, dan kehadiran kita membawa manfaat. Tubuh juga ikut terawat. Saat pulang, masih ada perhatian untuk mendengar orang-orang yang kita sayangi. Cara kita bekerja ikut menentukan bagaimana kita menjalani bagian-bagian lain dari kehidupan.
Namun, pengenalan ini sering terhalang oleh pembenaran yang sudah akrab. “Ya, dunia kerja memang begini.” “Semua orang juga capek.” “Namanya tanggung jawab, ya harus dijalani.” Kita mengatakannya sambil terus mengabaikan bahu yang menegang dan pikiran yang semakin sulit diajak bekerja sama.
Apalagi kalau kesibukan sudah menjadi bagian dari identitas: “Saya ini orang sibuk. Saya pekerja keras. Memang beginilah hidup saya.” Berhenti sebentar pun bisa terasa seperti menjadi kurang rajin. Kita mempertahankan pola yang melelahkan karena sudah telanjur merasa bahwa begitulah diri kita.
Nah, langkah awalnya adalah bersedia mengakui bahwa ada sesuatu dalam cara kita menjalani pekerjaan yang perlu dilonggarkan. “Iya, pekerjaan ini penting. Dan saya melihat bahwa cara saya membawanya sekarang sedang merugikan diri saya.” Dengan pengakuan itu, kita mulai bersedia berbalik arah.
Mengakui Dilema tanpa Hanyut dalam Rasa Bersalah
Begitu kita melihat pola tersebut, biasanya kita juga mulai ingat untuk apa kita bekerja. Kita ingin kehidupan berjalan lebih baik. Kita ingin memenuhi kebutuhan, merawat keluarga, dan mengerjakan sesuatu yang berguna. Kita ingin pekerjaan membawa berkah bagi hidup kita secara keseluruhan.
Karena itu, ada dilema yang perlu diakui dengan jujur. Pekerjaan penting, sementara tubuh juga perlu dirawat. Kita ingin bertanggung jawab kepada tempat kerja, dan pada saat yang sama ingin hadir bagi keluarga. Kita ingin hasil yang baik, sementara cara kita mengejarnya kadang justru membuat kita semakin lelah dan sulit berpikir.
Menyadari dilema ini sudah berarti. Kita mungkin masih akan salah menentukan waktu, terlalu memaksakan diri, atau membawa ketegangan pulang. Setidaknya sekarang kita melihat bahwa ada beberapa hal berharga yang sedang kita upayakan bersama, dan kita perlu belajar menjalaninya dengan lebih selaras.
Lalu muncul kemungkinan terseret lagi, kali ini ke rasa bersalah. “Wah, saya salah lagi.” “Saya memang tidak bisa mengatur hidup.” “Saya sudah mengabaikan kesehatan dan keluarga.” Pikiran terus mengulang penilaian itu, sementara tubuh tetap tegang dan pekerjaan belum bergerak.
Tadi kita hanyut dalam identitas sebagai pekerja yang harus selalu sibuk. Sekarang kita bisa hanyut dalam rasa bersalah karena melihat akibat dari kesibukan itu. Kalau kita mulai berputar di sana, kenali juga. “Iya, saya melihat ada pola yang kurang baik. Saya ingin memperbaikinya. Terus-menerus menyalahkan diri sendiri membuat saya semakin sulit mengambil langkah.” Kita mengakui keadaan, lalu mulai mencari cara untuk melonggarkannya.
Meluruskan Niat dengan Mengingat Keseluruhan Hidup
Setelah mengenali pola dan dilemanya, kita dapat kembali bertanya: sebenarnya, saya ingin menjalani hidup seperti apa? Kita bekerja untuk apa? Nilai apa yang sungguh penting bagi kita? Bagaimana kita ingin memperlakukan tubuh, keluarga, rekan kerja, dan orang-orang yang menerima hasil pekerjaan kita?
Kita juga bisa melihat lebih jauh. Ketika suatu hari mendekati akhir kehidupan dan menengok kembali perjalanan ini, kualitas hidup seperti apa yang ingin kita kenali? Mungkin kita ingin merasa bahwa kita sudah berusaha hidup dengan utuh. Kita bekerja sungguh-sungguh, belajar menggunakan kemampuan dengan baik, dan tetap merawat hubungan serta kesehatan. Kita ingin keberhasilan pekerjaan menjadi bagian dari kehidupan yang selaras.
Bahasa sederhananya: luruskan niat. “Saya ingin pekerjaan ini membawa manfaat. Saya ingin mengerjakannya dengan baik, sambil tetap merawat keseluruhan hidup saya. Saya ingin cara saya bekerja juga baik bagi orang-orang yang terlibat.” Luangkan waktu untuk sungguh mengingatnya. Perhatikan apakah niat itu juga mulai terasa dalam cara kita menghadapi pekerjaan yang menunggu.
Berjeda dan Mengizinkan Tubuh Ikut Melonggar
Pernah bekerja dari Senin sampai Jumat, lalu pada Jumat sore akhirnya duduk di sofa? Ada saat ketika tubuh seperti melepaskan seluruh tuntutan hari itu. Punggung bersandar, bahu turun, dan napas keluar: “Ahhh…” Untuk sesaat, kita berhenti menahan semuanya begitu kuat.
Rasa melepaskan seperti itu bisa menjadi petunjuk. Di tengah pekerjaan, kita bisa berhenti sebentar, menyandarkan tubuh jika terasa nyaman, dan membiarkan embusan napas keluar dengan wajar. Rasakan apakah bahu bisa sedikit turun atau rahang mulai mengendur. Izinkan diri berjeda dari dorongan untuk terus mengejar semuanya sekaligus. Dropping, melepaskan pegangan yang terlalu kuat.
Lalu, ajak tubuh ikut dalam niat baik yang tadi sudah kita ingat. Di sinilah pendekatan somatik menjadi dekat. Somatik berkaitan dengan tubuh sebagaimana kita mengalaminya dari dalam sebagai tubuh yang hidup. Ada denyut, gerak napas, rasa hangat, ketegangan, dan sensasi yang terus berubah. Kita merasakan kehidupan yang sedang berlangsung di tubuh ini.
Perhatikan bagian tubuh yang sekarang paling mudah terasa. Mungkin bahu, dada, perut, atau telapak kaki yang menyentuh lantai. Sambil merasakannya, ingat kembali niat tadi: “Saya ingin bekerja dengan cara yang membawa kebaikan. Tubuh saya juga ikut dirawat dalam proses ini.” Biarkan perhatian yang mempunyai niat baik itu menyertai bagian tubuh yang sedang tegang.
Kalau membantu, bayangkan kehadiran kita seperti menyinari tubuh dengan perhatian yang hangat. Maksudnya sederhana: tubuh yang selama ini dipaksa untuk terus bekerja sekarang ikut didengarkan dan dirasakan. Kita mengizinkannya terlibat dalam kelonggaran yang sedang kita pelajari.
Mungkin setelah beberapa saat kita ingin menggerakkan bahu atau leher dengan lembut. Mungkin baru terasa bahwa kita haus dan perlu minum air putih. Kita bisa menanggapi kebutuhan kecil itu. Melalui tindakan-tindakan yang dekat seperti ini, niat untuk hidup lebih selaras mulai terasa dalam cara kita memperlakukan tubuh sendiri.
Memilih yang Paling Penting Sekarang
Ketika kita sudah mempunyai sedikit kelonggaran, lihat kembali pekerjaan yang menunggu. Dari sepuluh hal yang terasa mendesak ini, apa yang paling penting sekarang? Apa yang paling menentukan hasil? Apa yang perlu dikerjakan lebih dahulu agar pekerjaan berikutnya dapat berjalan?
Prinsip Pareto dapat membantu kita melihatnya: sebagian kecil faktor sering menyumbang sebagian besar dampak. Dalam pekerjaan, kita mencari tugas-tugas yang pengaruhnya paling besar terhadap hasil yang sedang diupayakan.2
Biasanya pikiran segera menjawab, “Semuanya penting!” Baik, mungkin semuanya memang penting. Sekarang perjelas lagi pertanyaannya: dari semua yang penting itu, mana yang paling penting untuk dikerjakan terlebih dahulu? Kita sedang memilih urutan tindakan dalam keadaan yang nyata, dengan waktu dan tenaga yang tersedia.
Kadang jawabannya adalah mengerjakan tugas A dan B. Kadang, dari sepuluh bagian sebuah proyek, justru bagian delapan dan sembilan yang perlu didahulukan karena paling menentukan kelanjutannya. Kadang yang paling penting sekarang adalah beristirahat sebentar atau minum air putih, supaya kita dapat kembali membaca pekerjaan dengan perhatian yang lebih baik.
Setelah memilih, mulailah mengerjakannya. Perhatian kita sekarang punya pekerjaan yang jelas untuk dihadapi. Kita masih ingat ada tugas lain yang menunggu, sambil memberikan tenaga pada bagian yang memang perlu didahulukan.
Ketika Rasa Harus Kembali Mengikat
Tentu saja, di tengah mengerjakan prioritas itu, kita bisa tegang lagi. Bahu kembali terangkat. Pikiran mulai melompat ke tugas lain. “Ini belum selesai. Yang itu bagaimana? Nanti kalau terlambat?” Saat menyadarinya, kita dapat kembali melakukan proses yang sama: mengenali pola yang muncul, mengingat niat, melonggarkan pegangan, merasakan tubuh, lalu memeriksa tindakan yang paling diperlukan sekarang.
Proses ini terasa jauh lebih sulit ketika kita sudah sangat melekat pada suatu hasil. “Harus selesai semuanya.” “Saya harus terlihat mampu.” “Bos tidak boleh kecewa.” Di belakang tuntutan itu, sering ada hal-hal yang sangat manusiawi: takut dimarahi, takut penghasilan terganggu, masih ada cicilan, dan masih perlu membeli susu anak. Wajar kalau semua itu terasa penting bagi kita.
Dalam tradisi Buddhis, ada pengenalan tentang eight worldly concerns, atau delapan kepentingan duniawi. Kita dapat memahaminya melalui empat pasang keadaan yang sering menarik dan mendorong tindakan kita: keuntungan dan kehilangan, pujian dan celaan, nama baik dan nama buruk, serta kenikmatan dan rasa sakit.3
Di tempat kerja, tarikan itu mudah dikenali. Kita ingin mendapat penghasilan dan takut kehilangannya. Kita senang dipuji dan tidak ingin dimarahi. Kita ingin dikenal sebagai orang yang kompeten dan khawatir dianggap gagal. Kita menginginkan pengalaman yang menyenangkan dan ingin segera terbebas dari rasa tidak enak. Delapan kepentingan itu bisa bekerja melalui pikiran yang tampaknya sangat sederhana: “Pokoknya saya harus berhasil.”
Penghargaan, perhatian, dan apresiasi yang tulus adalah bagian dari lingkungan yang baik. Anak maupun orang dewasa bertumbuh dalam hubungan yang mendengarkan dan saling menghargai. Kita dapat merawat kualitas-kualitas itu dalam keluarga, pekerjaan, serta komunitas. Yang kita kenali di sini adalah keterikatan yang membuat batin terbajak: “Saya harus dipuji.” “Semua orang harus mengakui saya.” Ketika tuntutan itu menguasai perhatian, kita makin sulit membaca keadaan dengan luwes.
Melonggarkan genggaman tidak berarti membiarkan diri dicaci, diabaikan, atau terus berada dalam lingkungan yang apatis. Kelonggaran justru membantu kita membangun hubungan yang saling menghargai: menyampaikan kebutuhan, memilih lingkungan yang mendukung, mengapresiasi orang lain dengan tulus, dan menetapkan batas dengan lebih jernih.
Kita masih berjalan dan belajar, jadi wajar bila tarikan-tarikan itu masih kuat. Yang perlu kita kenali adalah apa yang terjadi ketika semuanya mengikat terlalu erat. Pilihan terasa menyempit. Kita seperti terpenjara oleh satu cara: terus memaksa diri, walaupun cara itu membuat pekerjaan dan keadaan tubuh semakin kacau.
Ketika pegangannya sedikit melonggar, kita mempunyai lebih banyak kemungkinan. Kita bisa melihat mana yang memang perlu segera diselesaikan dan mana yang dapat menyusul. Kita mungkin menemukan cara yang lebih sederhana untuk mengerjakannya. Kita juga bisa memperjelas prioritas bersama orang yang terkait. Cicilan dan kebutuhan keluarga tetap diperhitungkan, sambil kita belajar mengambil keputusan dengan lebih luwes.
Keterbukaan yang Tetap Merasakan Tubuh
Selama menjalani proses ini, terus ajak tubuh ikut serta. Kita mungkin sudah memahami pentingnya hidup yang seimbang, tetapi bahu masih menahan ketegangan. Rasakan juga bagian itu. Biarkan tubuh ikut mengalami kelonggaran yang sedang kita pahami.
Inilah yang bisa kita sebut grounded openness, keterbukaan yang membumi. Kita terbuka untuk melihat keadaan dan kemungkinan yang ada, sambil tetap merasakan tubuh serta tempat kita berada. Kehadiran itu dekat: ada kaki yang menyentuh lantai, ada bahu yang terasa, dan ada napas yang sedang berlangsung.
Kita bisa menggunakan kalimat sederhana ini mengikuti napas yang nyaman:
Menarik napas, saya menyadari tubuh saya.
Mengembuskan napas, saya mengizinkan tubuh saya lebih rileks.
Menarik napas, saya menyadari niat baik saya dalam pekerjaan ini.
Mengembuskan napas, biarlah hati saya mengarah pada kebaikan bagi semua.
Rasakan maksud kalimatnya di tubuh. Saat mengingat niat baik, kita sekaligus mengizinkan bahu, wajah, atau perut ikut melonggar. Lalu lanjutkan pekerjaan yang memang perlu dilakukan. Kalau nanti terseret lagi, saat mengenalinya kita dapat mulai lagi dari keadaan yang ada.
Menyadari bahwa Orang Lain Juga Mengalaminya
Ketika kita semakin mengenal proses ini pada diri sendiri, kita juga mulai lebih mengerti orang lain. Rekan kerja yang terburu-buru, atasan yang menuntut hasil, atau anggota keluarga yang mudah kesal mungkin juga sedang merasa terdesak. Mereka mempunyai kebutuhan, kekhawatiran, dan keinginan agar hidupnya berjalan lebih baik.
Seperti kita, mereka ingin urusannya lancar, ingin berhasil, ingin bahagia, dan ingin terbebas dari penderitaan. Sementara itu, waktu, tenaga, dan keadaan yang tersedia terbatas. Banyak kebutuhan bertemu, lalu muncul masalah dan kendala. Dengan mengenali pengalaman sendiri, kita bisa semakin memahami mengapa orang lain juga kadang kesulitan bersikap luwes.
Pengertian ini dapat kita bawa ke dalam pekerjaan. Sewaktu perlu menjelaskan prioritas, meminta bantuan, atau menyampaikan bahwa ada pekerjaan yang belum selesai, kita mencoba berbicara dengan lebih jernih. Kita ingat bahwa orang yang diajak bicara juga sedang berusaha menjalani kehidupannya.
Saat Eling dan Waspada Semakin Menyatu
Awalnya, kita mungkin perlu menjalani proses tadi satu per satu. Mengenali ketegangan, mengingat niat, berjeda, merasakan tubuh, kemudian menentukan prioritas. Setelah semakin terbiasa, proses itu bisa terasa lebih sederhana. Kita mengenalinya melalui dua hal: eling dan waspada.4
Eling berarti mengingat kembali orientasi kehidupan yang luas. Kita ingat apa yang berharga, nilai-nilai yang ingin dijalani, serta kehidupan utuh yang sedang kita upayakan. Pada tahap awal, kita masih perlu mengingatnya melalui pertanyaan atau perenungan: “Apa yang penting bagi saya? Bagaimana saya ingin hidup? Apa yang saya anggap baik?” Perhatian yang tadi terserap oleh satu tuntutan mulai terbuka kembali.
Ketika pengenalan ini semakin mendalam, eling berlangsung tanpa perlu merumuskan nilai atau visi di dalam pikiran. Kita melihat dan beristirahat pada keutuhan kehidupan yang melampaui konsep. Kehidupan teralami secara utuh dan langsung, sebelum kita menguraikannya menjadi penjelasan. Nilai-nilai yang sebelumnya perlu diingat dengan kata-kata dapat semakin terhidupi dalam cara kita hadir dan bertindak.
Waspada adalah kejelian mengenali apa yang menghalangi dan apa yang menyuburkan kehidupan yang ingin kita jalani. Seperti merawat tanaman, kita mengenali gulma atau hama yang mengganggu pertumbuhannya, sekaligus memperhatikan air, cahaya, dan keadaan tanah yang membuatnya tumbuh dengan baik. Dalam pekerjaan, kita belajar melihat kapan ketakutan dan dorongan “harus” mulai membuat kita kaku. Kita juga mengenali kapan jeda, tubuh yang lebih rileks, atau prioritas yang jelas membantu kita bekerja dengan lebih selaras.
Pada awalnya, waspada mungkin terasa seperti kegiatan berpikir dan berefleksi. “Kalau saya terus memaksa dalam keadaan seperti ini, saya makin sulit bekerja. Apa yang perlu dilonggarkan? Kondisi apa yang perlu saya rawat agar pekerjaan ini berjalan lebih baik?” Kita belajar mengenali hubungan antara keadaan yang sedang berlangsung, tindakan yang kita ambil, dan akibatnya bagi kehidupan.
Seiring pendalaman, waspada juga berlangsung secara langsung dalam satu momen, tanpa perlu melalui pemikiran konseptual. Kita segera mengenali apa yang sedang terjadi dan merasakan arah yang lebih selaras, seperti kompas. Keutuhan kehidupan dikenali, dan dalam pengenalan yang sama kita memahami apa yang sedang mempersempit serta apa yang memungkinkan kehidupan ini tumbuh dengan baik.
Waspada seperti ini terasa jernih dan rileks. Kita tidak sedang menegangkan diri untuk berjaga-jaga atau merasa takut. Kita peka, belajar dari pengalaman, dan semakin mengerti kondisi yang perlu dirawat. Ada mekanisme pembelajaran yang organik: kita mengenali saat suatu cara menambah kekacauan, lalu belajar melonggarkannya; kita mengenali saat suatu cara membawa kebaikan, lalu belajar merawatnya.
Pada pendalaman berikutnya, eling dan waspada semakin menyatu. Kita cukup menyebutnya kesadaran. Dalam satu momen menyadari, orientasi kehidupan yang utuh dan pengenalan terhadap keadaan yang sedang berlangsung hadir bersama. Kita semakin sedikit perlu memisahkan proses itu menjadi “sekarang mengingat nilai, kemudian memeriksa diri, lalu memilih tindakan”.
Kalau dijabarkan, di dalamnya tetap ada apa yang sudah kita bicarakan: mengenali keadaan, melonggarkan pegangan, mengarah pada kebaikan, merasakan tubuh, dan mengizinkan tubuh ikut menyesuaikan diri dengan niat baik. Dari sana, tindakan yang diperlukan dapat menjadi lebih jelas. Mungkin kita perlu beristirahat sebentar, mungkin mengerjakan bagian yang paling menentukan, atau memperjelas prioritas bersama rekan kerja. Apa yang semula kita pelajari sebagai beberapa langkah semakin menyatu dalam cara kita menjalani kehidupan.
Alat Bantu agar Pengertian Terasa Nyata
Kadang kita memahami penjelasan ini, tetapi belum yakin dapat menjalaninya. “Masa hanya menyadari?” Kita belum tahu bagaimana pengertian itu bisa sungguh terasa. Di sinilah metode membantu melalui sesuatu yang lebih dekat dengan cara kita merasakan dan belajar.
Alat bantunya dapat melibatkan gambaran atau imajinasi, suara dan kata-kata, rasa tubuh, serta gerakan. Kita dapat merasakan tumpuan kaki, membuat gerakan yang membantu tubuh melonggar, menggunakan humming atau dengungan suara yang terasa dalam tubuh, atau membayangkan suasana yang membantu kita beristirahat. Menulis juga dapat membantu ketika disertai pertanyaan yang terarah: “Apa yang sedang terjadi? Apa yang saya rasakan? Apa yang sedang saya genggam? Respons apa yang lebih sesuai dengan niat baik saya?”
Dari berbagai kemungkinan ini, berkembang banyak teknik yang kreatif. Cara yang sesuai membantu kita mengalami sendiri apa yang semula hanya terdengar sebagai nasihat. Kepercayaan tumbuh ketika kita mulai merasakan dan memahami prosesnya. Kita dapat terus belajar menemukan alat bantu yang sesuai dengan keadaan.
Belajar Seumur Hidup dan Tetap Bertindak
Saya sendiri juga masih belajar melakukan ini. Saya masih bisa terlalu tegang, salah menentukan prioritas, hanyut dalam tuntutan, atau kewalahan sampai sulit menjalankan apa yang sudah saya pahami. Kadang saya mampu melonggarkan keadaan. Kadang saya masih kepayahan dan belum mampu.
Kita bisa menjalani latihan ini seumur hidup. Kita mencoba, melihat akibatnya dalam pengalaman sehari-hari, lalu belajar lagi dengan jujur dan tulus. Saat tubuh terlalu tegang, kita belajar mengakuinya. Saat niat menyempit atau keputusan kita kurang membantu, kita mengenalinya dan mencoba memperbaiki arah. Pengertian tentang apa yang sungguh penting dalam kehidupan tumbuh melalui pengalaman seperti ini.
Penerimaan seperti ini berjalan bersama komitmen untuk bertindak. Sesudah menyadari keadaan, kita tetap menentukan prioritas dan mengerjakan tugas yang penting. Kita menerima bahwa waktu serta tenaga terbatas, lalu memilih bagaimana menggunakannya sesuai nilai-nilai yang kita anggap luhur. Kita bisa bekerja dengan sungguh-sungguh sambil terus belajar merawat keseluruhan hidup.
Mungkin pekerjaan masih banyak setelah kita selesai membaca ini. Coba rasakan tubuh sekarang. Ingat kembali niat baik kita dalam bekerja, lalu izinkan sedikit kelonggaran. Dari sepuluh hal yang menunggu, pilih satu yang paling perlu dikerjakan saat ini. Kita mulai dari sana.
Semoga cara kita bekerja semakin membawa berkah bagi kehidupan kita, orang-orang di sekitar kita, dan semua makhluk.
Catatan dan Referensi
- Respons stres. Harvard Health Publishing, “Understanding the stress response”. Penjelasan tentang respons fight or flight mencakup tenggat pekerjaan sebagai pemicu serta perubahan pada detak jantung, pernapasan, dan ketegangan otot. ↩
- Prinsip Pareto. Juran Institute, “A Guide to the Pareto Principle and Pareto Analysis”. Prinsip ini membantu mengenali sejumlah kecil faktor yang menyumbang sebagian besar dampak. Penerapannya pada prioritas pekerjaan di sini mengikuti pembahasan dalam artikel. ↩
- Delapan kepentingan duniawi. Aṅguttara Nikāya 8.6, Lokavipatti Sutta, terjemahan Thanissaro Bhikkhu. Empat pasangan kondisi yang dibahas ialah keuntungan dan kehilangan, status atau nama baik dan kehinaan, celaan dan pujian, serta kenikmatan dan rasa sakit. Contoh di tempat kerja merupakan penguraian dalam artikel. ↩
- Eling dan waspada. Kedua fungsi ini dihubungkan dengan istilah Sanskerta smṛti, mengingat atau tidak melupakan, dan saṃprajanya, kejernihan mengenali keadaan tubuh serta batin. Lihat John Dunne, “An Interview with Buddhist Scholar John Dunne on Mindfulness”, Mandala Publications. Uraian eling, waspada, dan perkembangannya hingga menyatu sebagai kesadaran mengikuti penjelasan Andreas dalam artikel ini. ↩
